kualitas air tanah perkotaan

Waspada! di kota besar kualitas air tanah sudah hampir sama buruknya dengan air sungai

Advertisements

lowongan kerja menarik

Banyak orang menganggap air tanah lebih bersih dibandingkan air sungai. Sebab, air tanah berasal dari proses peresapan air hujan dan tidak tersingkap ke permukaan.

Namun kondisi itu tidak selamanya terjadi. Saya bersama tim membandingkan kualitas air tanah dan air sungai di bantaran Sungai Cikapundung, Kota Bandung. Hasilnya, kualitas air tanah – terutama yang berada di bantaran sungai – kian mirip dengan air sungai di daerah perkotaan.

Penelitian lainnya di beberapa sungai seperti Kali Sumpil dan Kali Jilu di Malang, Jawa Timur; Sungai Cisadane di Tangerang, Jawa Barat; dan Sungai Ciliwung di Jawa Barat-DKI Jakarta juga menghasilkan temuan senada.

Temuan-temuan di atas menunjukkan bahwa upaya rehabilitasi sungai tercemar sangatlah penting. Tak hanya untuk kelestarian ekologis sungai dan daerah alirannya, upaya perbaikan juga semestinya dilakukan guna menopang kualitas akses air masyarakat – di mana mayoritas di antaranya masih bergantung pada air tanah.

Bagaimana air sungai meresap ke air tanah

Penelitian kami menemukan kadar total dissolved solids (TDS) atau zat padatan terlarut di air tanah sudah sama tingginya dengan air sungai. Karena mampu mencerminkan seberapa banyak kandungan unsur (termasuk unsur logam) di dalam air, TDS digunakan sebagai indikator tingkat pencemaran. Makin tinggi nilai TDS mengindikasikan makin tercemar airnya.

Nilai TDS pada air tanah di Sungai Cikapundung (Bandung), Sungai Ciliwung (Jakarta), dan Sungai Cisadane (Banten) bisa mendekati 1000 ppm. Bandingkan dengan kandungan TDS pada mata air yang berkisar antara 100-500 ppm (Gambar 1).

kualitas air tanah
Gambar 1. Grafik plot antara elevasi dan TDS pada 140 sampel air tanah (merah) dan air sungai (hijau) pada kurun waktu 1997 sampai 2012 di bantaran Sungai Cikapundung, Bandung. Data dan grafik dari Portal Aquastats. Author provided

Kemiripan kualitas air tanah dan air sungai sangat mungkin akibat pencampuran keduanya di Zona Hiporeik yang berada di dasar sungai. Pada zona ini terjadi pertukaran kualitas air dari sungai ke dalam akuifer (lapisan pembawa air) dan sebaliknya. Pertukaran ini turut membawa unsur kimiawi hingga organik, termasuk bakteri dan virus, yang terkandung dalam air sungai ke air tanah, maupun sebaliknya.

Proses pertukaran kualitas air ini bisa menjadi lebih cepat dengan banyaknya aktivitas pemompaan air tanah di sepanjang bantaran sungai (Gambar 2). Akhirnya air sungai menjadi ikut tersedot dan berimbas ke pelebaran Zona Hiporeik ke arah daratan. Akibatnya potensi kontaminasinya pun dapat meluas (Gambar 3).

image 1
Gambar 2. DAS Cikapundung dan hasil pemodelan aliran air tanahnya (simbol panah) Author provided
image 2
Gambar 3. Ilustrasi Zona Hiporeik dan perubahannya. Author provided

Kegiatan manusia di permukaan, misal: pembuangan limbah rumah tangga yang mengandung bahan organik secara langsung ke selokan, menyebabkan peningkatan kandungan bakteri (salah satunya E-coli), senyawa nitrit, dan nitrat di dalam air. Air di selokan itu mengalir ke sungai terdekat. Sebagian air juga meresap ke dalam tanah.

Kondisi ini diperburuk dengan situasi pandemi yang menyebabkan banyak orang membuat usaha rumahan seperti katering dan penatu tanpa alat penetral limbah. Melihat situasi itu, kontaminasi limbah rumah tangga bisa saja melebihi limbah industri. Pembuktian lebih lanjut tentu sangat dibutuhkan.

image 3
Gambar 4. Bantaran Sungai Cikapundung diambil dari Jembatan Pasupati ke arah selatan. Author provided

Urbanisasi terus meningkat

Kualitas Air Tanah – Peningkatan urbanisasi terjadi di seluruh kota-kota besar di Indonesia. Sebanyak 56,7% penduduk Indonesia tinggal di perkotaan pada tahun 2020. Seperempat di antaranya tinggal di kawasan kumuh.

Kepadatan yang terus meningkat dengan akses perumahan yang terbatas memicu tumbuhnya kawasan permukiman informal di perkotaan, atau kawasan kumuh. Fenomena ini terjadi di seluruh dunia dengan perkiraan sebanyak 1 miliar penduduk tinggal di kawasan kumuh saat ini.

Pertambahan penduduk ini belum diikuti dengan peningkatan infastruktur suplai air dan sanitasi. Hal ini mengakibatkan rendahnya akses air bersih di berbagai kawasan, termasuk di kawasan kumuh. Pemilik rumah kerap membuat saluran pembuangan air kotor secara mandiri, yang mengalir langsung ke selokan di depan rumah yang nantinya akan masuk ke sungai terdekat. Limbah ini juga dapat meresap ke dalam tanah menuju lapisan pembawa air (akuifer).

Pencemaran air tanah pun terjadi. Akibatnya, warga menutup sumurnya yang telah tercemar dan membeli air dari penjaja air keliling atau air galon isi ulang untuk minum.

Upaya melestarikan sungai

Sebenarnya saat ini banyak upaya dari pemerintah daerah atau pusat, bahkan dari komunitas masyarakat untuk memperbaiki bantaran sungai. Di Jawa Barat, Program Citarum Harum turut melibatkan TNI untuk merazia pabrik-pabrik yang membuang limbahnya langsung ke Sungai Citarum.

Peremajaan bantaran sungai sebagai ruang terbuka publik juga dilakukan di sejumlah kota besar. Langkah ini membantu perubahan cara pikir masyarakat tentang sungai dari tempat membuang kotoran menjadi ruang beraktivitas yang bersih dan indah.

Untuk mempertahankan kualitas air, larangan pembuangan limbah industri dan rumah tangga secara langsung ke selokan umum perlu terus digalakkan. Para pengembang perumahan dapat membuat sistem pengolahan limbah atau memasang alat pemerangkap lemak (grease trap) di rumah-rumah yang dibangunnya.

Temuan ini termuat dalam analisis yang terbit di The Conversation, Pengajar Departemen Hidrologi Institut Teknologi Bandung, Dasapta Erwin Irawan, dan timnya merangkum hasil studi kualitas air tanah di kota-kota besar di Indonesia, beserta Achmad Darul dan Hari Siswoyo


Pernah dimuat di :

The Conversation
Disiplin ilmiah, gaya jurnalistik

Dimuat ulang oleh : www.tokofilterair.com

Service Toko KiTa Water Terbaru
Toko KiTa Water Peduli Lingkungan

Leave a Comment